Neno: Ini Cara Sederhana Kami Menyerukan Pesan Perdamaian

Diposting pada

SEPUTARKUDUS, UMK – Kain berwarna warni menghiasi sebuah panggung di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Rabu, (20/9/2017) malam. Ratusan penonton terlihat antusias mengikuti acara rutin yang digelar Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk), bekerjasama dengan HMP SI UMK dan didukung Djarum Foundation Bakti Budaya.

Fasbuk hari perdamaian_2017_7_21
Tabita dan Vika saat tampil di acara Fasbuk memperingati Hari Perdamaian Dunia. Foto: Ahmad Rosyidi

Acara bertajuk Lantunan Kedamaian tersebut digelar memperingati Hari Perdamaian Dunia 21 September. Usai acara pementasan dan diskusi, terlihat seorang pria berkaus hitam dengan tulisan Fasbuk di bagian dada, terlihat sedang mengambil gambar untuk dokumentasi. Pria tersebut yakni Edi Sukirno (31), penanggung jawab acara yang digerlar Fasbuk.

Menurutnya, acara ini menjadi cara sederhana untuk menyerukan perdamaian. Neno, begitu Edi Sukirno akrab disapa, sudi berbagi kepada Seputarkudus.com tentang kegiatan tersebut. Dia mengatakan, ingin mengajak generasi muda untuk menciptakan perdamaian dengan hal-hal sederhana, dengan berkarya.

“Karena kami bergerak di bidang seni, jadi kami tidak harus turun ke jalan. Saya dan teman-teman Fasbuk memilih untuk melakukan aksi sesuai dengan passion kami, dengan kesenian dan berkarya,” terang pria yang sudah dikaruniai satu anak itu.

Dia mengaku puas, dengan pementasan adik-adik yang sudah berkarya dan menyerukan tentang perdamaian melalui kesenian. Neno juga merinci seluruh pengisi acara pada malam itu, di antaranya yakni Teater Oncor dari Madrasah TBS Kudus, MuthiaharlikaHani dari SMKN 1 Kudus, Rika Dea Ariati dari SMAN 2 Kudus, Tabita Nathasya Nugroho dari SMAN 1 Kudus, dan Vika Amartya dari SMAN 1 Kudus.

Aditya Idris (24), satu di antara ratusan penonton yang hadi pada acara tersebut, mengaku tertarik hadir karena ada pementasan musik dalam Fasbuk edisi bulan September. Dia sudah tiga kali hadir di acara Fasbuk, dan semua ada pementasan musiknya. “saya memang lebih suka seni musik, kalau yang lain kurang begitu suka,” terang warga Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus itu.

Adit sapaan akrabnya, meski dirinya kurang suka dengan sastra, dia cukup mengapresiasi kegiatan Fasbuk. Adit juga berharap acara Fasbuk terus berkembang dan lebih kreatif lagi. Menurutnya, saat ini sastra memang kurang diminati, maka dari itu perlu terus diserukan agar generasi muda seperti dirinya juga bisa mulai menyukai sastra.

“Meski saya kurang begitu suka kesenian selainmusik, tetapi saya cukup mengapresiasi acara ini. saya juga berharap Fasbuk bisa lebih berkembang dan lebih baik lagi kedepannya,” ungkapnya sebelum pulang.