Kisah Berliku Pemilik Usaha Sate Surimi, Jualan Keliling Hingga Dagangan Tumpah

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, GONDOSARI – Seorang perempuan berjilbab merah hati tampak sedang sibuk memanggang Sate Surimi di depan Alfamart Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus. Setelah matang kemudian dia membaluri sate tersebut dibubuhi saus dan aneka rasa sesuai pesanan pembeli. Di sampingnya terlihat seorang pria berkalung tasbih sedang mengamati semua aktivitas tersebut. Pria itu tak lain Nandar Hidayat (27), pria dibalik populernya Sate Surimi.

20171028_RS_Nandar Hidayat Sate Surimi
Nandar Hidayat Sate Surimi (paling kanan), pemilik Sate Surimi. Foto Rabu Sipan

Kepada seputarkudus.com, pria yang akrab disapa Nandar itu sudi berbagi kisah suka duka merintis usaha Sate Surimi. Dia mengungkapkan, merintis usaha memang tidak lah semudah membalikan telapak tangan. Dia pernah mengalami jualannya tidak laku dan memutuskan pindah tempat, pernah juga berjualan keliling kehujanan dan semua dagangannya tumpah. Bahkan pernah produknya tersebut dibajak orang.

Baca juga: Lulusan STAIN Kudus Ini Buat Sate Surimi, Buka Franchise di Beberapa Kota

Dia mengungkapkan, awal berjualan Sate Surimi sekitar tiga tahun lalu mulai dari even-even yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Kudus dan buka stan di Car Free Day. Namun karena ada pelanggan yang ingin agar dirinya buka setiap hari, dia pun menyewa tempat di depan SMP Masehi Kudus untuk berjualan. Tapi sayangnya di tempat tersebut dia tidak beruntung, karena dagangannya tidak laku. Dia lalu berinisiatif mencari tempat baru di depan Alfamart Desa Loram Wetan.

Alhamdulillah di tempat baru Sate Surimi sangat diminati dan sangat laris. Kemudian aku pun semangat untuk membuka cabang-cabang baru dan kini aku sudah punya beberapa tempat penjualan di Kudus,” ungkapnya.

Sukses mempopulerkan Sate Surimi di Kudus, membuatnya berinisiatif memasarkannya di daerah lain. Dia mulai berkeliling berjualan Sate Surimi menggunakan sepeda motor. Saat berjualan tersebut dirinya harus pulang pergi dari Kudus ke daerah tujuan untuk menjual Sate Surimi. Bahkan saat berjualan di Juana Pati dia pernah kehujanan dan semua dagangannya tumpah.

“Karean kejadian tersebut malah memacu tekadku agar secepatnya mampu membeli mobil untuk berjualan. Ahamdulillah, harapan itu kini sudah tercapai bahkan aku pernah gonta-ganti mobil tiga kali,” ungkapnya sambil tersenyum.

Pria lajang yang rajin puasa Senin dan Kamis tersebut mengungkapkan, berkat kegigihannya memasarkan Sate Surimi ke daerah lain, kini dirinya punya 10 cabang penjualan yang tersebar di Jepara, Pati, Rembang, Semarang, serta Purwodadi dengan sistem franchise. Saking populernya Sate Surimi pernah dibajak orang di Rembang.

Karena tidak merasa ada kerjasama dengan orang tersebut dia kemudian mendatanginya dan menanyakan legalitas dan paten merk yang digunakannya. Karena menurutnya, Sate Surimi miliknya sudah dipatenkan juga SIUP, TDp, IUMKM, serta Hak Paten Kekayaan Intelektual. “Jadi Sate Surimi itu sudah paten miliku Nandar Hidayat,” ujarnya tersenyum.

Dia menuturkan, menjual Sate Surimi dengan harga Rp 5 ribu untuk harga original dan Rp 7 ribu untuk Sate Surimi varian rasa di antaranya, lada hitam, bolognese, balado pedas, saus mayo, sambal ijo, serta BBQ. Sate Surimi terbuat dari bahan alami yakni Ikan Swangi dan tanpa bahan pengawet serta pewarna buatan. Untuk warna hijau Surimi menggunakan bayam dan oranye menggunakan wortel.

Dia juga menawarkan untuk semua orang, bagi siapa saja yang minat berjualan Sate Surimi bisa kerjasama dengannya dan bisa menghubunginya di nomer 0858 7821 5788. Mereka cukup membayar Rp 7 juta dan mendapatkan gerobak, freezer, bahan paku dan peralatan lengkap.  “Dijamin menguntungkan, mereka bisa mendapatkan keuntungan 40 sampai 50 persen,” ujarnya.