Pria Asal Rembang Ini Sukses Produksi Tahu di Kudus, Berikut Ini Kisahnya . . .

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGBENER – Beberapa orang pria dan perempuan tampak sibuk mengolah kedelai menjadi tahu dalam sebuah bangunan beratap seng yang berada di Dukuh Kemang, Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus. Tak jauh dari para pekerja, tampak seorang pria berkemeja dan bertopi sedang mengamati. Pria itu yakni Martono (32), pemilik usaha pembuatan tahu AD Putra. Dia merintis usahanya dari nol.

20171026_RS_Martono pengusaha tahu di Kudus
Martono, pengusaha tahu di Desa Karang Bener, Kecamatan Jekulo, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut Martono sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia bercerita, merintis usaha pembuatan tahu sejak tahun 2013. Usahanya tersebut dirintis dari bawah. Karena memang sebenarnya dirinya berasal dari Rembang dan merantau ke Kudus hanya bermodal “dengkul” untuk bekerja di perusahan produksi tahu yang ada di Kota Kretek.

“Karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, sejak lulus SMP pada tahun 2000 aku memutuskan merantau ke Kudus untuk bekerja di tempat pembuatan tahu. Aku bekerja selama 10 tahun dan menikah pada tahun 2006 dengan warga Karangbener, Bae, Kudus,” ujar Martono saat ditemui di tempat usahanya, belum lama ini.

Pria yang tercatat sebagai warga Desa Karangbener, Bae, Kudus itu menuturkan, setelah menikah kebutuhan makin banyak. Namun statusnya sebagai buruh hasilnya tidak ada peningkatan. Karena alasan tersebut pada tahun 2010, Martono memutuskan untuk berdagang tahu keliling. Meskipun dia sadar, pilihannya tersebut bukan tanpa risiko. Karena jika tahu yang dijual tidak laku, tidak ada penghasilan yang akan dia dapat.

“Benar saja tiga bulan awal berjualan saat itulah masa terberatnya, karena memang agak susah mencari pembeli, apalagi pelanggan. Tahunya sering tidak laku, bahkan sehari bisa mendapatkan uang untuk makan itu saja sudah sangat beruntung,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, karena sering tidak laku, selain berjualan tahu dirinya juga jualan ampas tahu. Selain itu juga terkadang bekerja paruh waktu membuat tahu. Dia mengaku salut dengan istrinya, yang selalu mendukungnya. Hingga pada suatu hari, ada seorang pedagang tahu di Pasar Dawe yang membeli tahu yang dijualnya dan kemudian berlangganan.

Menurutnya, dari itulah titik balik perjalanan hidupnya. Karena berawal dari satu pelanggan itu kemudian pedagang tahu lainnya banyak yang berlangganan kepadanya. Hingga lambat laun banyak pemilik warung makan di Kecamatan Dawe, Bae, serta para pedagang di Pasar Jekulo berlanggan tahu yang dijual Martono. Karena banyaknya pelanggan, tempat produksi tahu tempat dia belanja tak mampu memenuhi semua permintaan.

“Dengan sangat terpaksa dan dengan modal hasil berjualan tahu yang selama ini aku tabung, aku mendirikan usaha produksi tahu. Dan aku bersyukur kini pelangganku semakin banyak dan hasilnya kini aku mampu membeli beberapa kavling tanah dan mobil untuk operasional,” ujarnya.