Sejak Gunakan Nama Anaknya, Tahu Milik Martono Laris Manis

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGBENER – Di tepi jalan sebuah gang di Dukuh Kemang, Desa Karangbener, Kecamatan Bae Kudus tampak sebuah bangunan bata merah. Dari luar bangunan suara mesin disel terdengar bergemuruh. Di dalam bangunan tampak beberapa orang sibuk membuat tahu. Usaha pembuatan tahu bernama AD Putra itu milik Martono. Nama usaha tersebut dipilih karena rekomendasi dari anak pertamanya.

20171026_RS_Usaha pembuatan tahu2
Usaha pembuatan tahu di Desa Karang Bener, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Martono (32) sudi memberi penjelasan tentang nama usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, tiga bulan pertama berjualan tahu keliling, merupakan saat terberat dalam ekonomi keluarga Martono. Karena menurutnya, saat itu tahu yang dijual sering tidak laku. Dia bahkan harus bekerja serabutan. Mulai dari berjualan, mocok jadi buruh pembuat tahu serta mencari rumput untuk pakan ternak.

Baca juga: Pria Asal Rembang Ini Sukses Produksi Tahu di Kudus, Berikut Ini Kisahnya . . .

“Saat itu ekonomi keluargaku memang sangat sulit, setelah tiga bulan berjualan dan kurang laku, entah kenapa aku berinisiatif memberi nama tahu yang aku jual. Sebenarnya saat itu aku akan menuliskan namaku. Namun tiba-tiba anak pertamaku nyeletuk, kasih namaku aja pak nanti tahu bapak pasti laris,” ujar Martono menirukan celetukan anaknya.

Pria asli Rembang itu menuturkan, saat itu dirinya spontan percaya dengan omongan anaknya tersebut. Karena anaknya bernama lengkap Rahmad Aditya Pratama, jeriken untuk dia menjual tahu diberi tulisan AD Putra. Diakuinya, sejak diberi tulisan tersebut tahu jualannya laris dan sekarang sudah memiliki banyak pelanggan serta bisa mendirikan usaha pembuatan tahu sendiri.

Dia mengungkapkan, sejak tahun 2013 dirinya mendirikan usaha pembuatan tahu secara mandiri. Saat ini usahanya tersebut terbilang terus berkembang. Tahu AD Putra lumayan dikenal di daerah sekitar Kecamatan Dawe, Bae, dan Pasar Jekulo, Kudus. Dalam sehari dia mampu menghabiskan sekitar empat hingga lima kwintal kedelai. “Jumlah tersebut akan naik saat musim orang punya hajatan,” ungkapnya.

Pria yang kini sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, kelebihan tahu produksinya diakui pelanggannya lebih kenyal serta lebih tebal. Sedangkan untuk harga, dia dan pemilik usaha tahu yang berada di desa setempat sudah sepakat untuk menjual seharga Rp 250 sampai Rp 500 per kotak, atau Rp 60 ribu hingga Rp 66 ribu per tong.

“Aku berharap tahu hasil produksiku makin diminati masyarakat, serta usahaku bisa makin berkembang lagi. Dan semoga harapanku untuk membuka cabang pembuatan tahu lagi bisa terlaksana, karena aku akan merambah penjualan hingga ke Purwodadi, Grobogan,” harap Martono.