Terkena PHK, Riyanto Sukses Merintis Usaha Jual Beli Televisi Tabung dengan Modal Hutang

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Puluhan televisi tabung baru dan bekas terpajang di atas rak besi serta terjajar rapi di lantai bangunan  di tepi barat Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Di antara puluhan televisi tersebut tampak seorang pria mengenakan kaus oblong coklat duduk sambil menonton acara televisi. Pria tersebut yakni Slamet Riyanto (32) yang sukses menekuni usaha jual beli televisi tabung setelahkontrak kerjanya tak diperpanjang.

20171101_RS_Slamet Riyanto, tukang servis televisi di Kudus
Slamet Riyanto, tukang servis televisi di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil menonton televisi pria yang akrab disapa Riyanto itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, sudah 10 tahun merintis usaha jual beli televisi tabung. Tepatnya pada tahun 2007, sejak kontrak kerjanya di perusahaan elektronik terbesar di Kudus tak diperpanjang.  Selama lima tahun bekerja di perusahaan tersebut dirinya juga mulai berjualan televisi barang sortiran (BS).

“Setelah kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku tidak bisa berjualan televis BS-an pabrik. Karena memang peraturannya yang bisa membeli dan menjual harus orang dalam. Karena tidak ingin menganggur setelah keluar kerja, aku pun nekat membuka usaha jual beli televisi tabung bekas,” ungkapnya.

Pria warga Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kudus itu menuturkan, pada saat itu dirinya membeli televisi bekas maupun rusak dari masyarakat maupun pemulung. Kemudian televisi bekas tersebut diperbaikinya dan kemudian dijualnya kembali dan bergaransi. Dengan kualitas televisi bekas yang dijualnya Riyanto pun mampu menarik kepercayaan para pedagang televisi bekas di Pasar Kliwon Kudus.

“Sebelum pasar terbakar yang terakhir itu hampir semua pedagang televisi bekas di Pasar Kliwon mengambil televisi di tempatku. Dalam sebulan aku bisa mengirim sekitar 90 unit televisi tabung bekas kepada para pedagang di Pasar Kliwon,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, tapi sayangnya setelah Pasar Kliwon terbakar usaha jual beli televisinya juga terkena imbasnya. Bahkan para pedagang televisi di pasar tersebut tidak mengambil lagi televisi darinya sampai sekarang. Namun setiap kejadian pasti ada hikmahnya, karena tidak lama berselang dirinya mendapat tawaran membeli spare part televisi komplit.

“Saat mendapatkan tawaran itu aku tidak berfikir panjang dan langsung menyanggupi membelinya meski tidak punya uang. Karena dengan spare part televisi lengkap tersebut, di pikiranku terlintas aku bisa merangkai televisi baru,” bebernya.

Dia mengatakan, karena tidak punya uang dirinya pun meminjam ke temannya sebesar Rp 100 juta dengan perjanjian bagi hasil saat televisi laku terjual. Setelah semua spare part televisi tersebut terbeli dirinya pun mempekerjakan tiga orang teknisi perakit televisi. Dan Ahamdulillahnya, setelah beberapa televisi terakit ada pasanan dari toko di Semarang yang meminta setiap bulan dikirim sebanyak 100 unit televisi baru.

“Alhamdulillah order dari Semarang itu masih bertahan hingga sekarang. Dengan order tersebut dalam sebulan aku sudah mampu mengembalikan modal plus uang bagi hasilnya. Sekarang aku sudah buka cabang penjualan baru. Dari hasil penjualan televisi baru yang kami rakit itu, aku sudah mampu membeli dua mobil halus,” ujarnya.