Usaha Pembuatan Gebyok Khas Kudus Dirintis Malikan Sejak Masih Lajang

Diposting pada

SEPUTARKUDUS.COM, JETIS KAPUAN – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi, tepatnya di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah bangunan beratap seng. Di dalam bangunan tersebut terlihat sebuah gebyok melintang serta dua pintu gapura yang dipenuhi ukiran. Tempat itu yakni Gong Sekaten tempat pembuatan rumah adat Kudusan.

20171102_RS_Malikan, pembuat gebyok khas Kudus
Malikan, pembuat gebyok khas Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com Malikan (52) selaku pemilik Gong Sekaten sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, merintis usaha pembuatan rumah adat pada tahun 1993. Namun sebelum memulai usahanya tersebut dirinya bekerja sebagai tenaga ukir di tempat usaha serupa di Kecamatan Kota, Kudus, selama dua tahun.

Baca juga: Gebyok Khas Kudus Buatan Warga Undaan Tengah Ini Dijual Ratusan Juta

“Setelah dua tahun kerja ikut orang aku memutuskan keluar. Karena aku ingin membuka usaha sendiri agar bisa berdikari dan mandiri. Aku akui saat itu agak nekat karena pada waktu merintis usaha itu aku masih lajang,” ujar pria yang akrab disapa Malik saat ditemui di Gong Sekaten beberapa waktu lalu.

Pria warga Desa Undaan Tengah, Kecamatan Undaan, Kudus itu menuturkan, merintis usaha saat masih lajang agar nanti saat berkeluarga dirinya sudah mapan. Sejak mulai merintis usaha dan diberi nama Gong Sekaten yang memproduksi rumah adat Kudusan, joglo, gebyok, pintu gapura dan lainnya order selalu berdatangan. Pesanan di antaranya datang dari Bali, Jakarta, Semarang, Jepara hingga Sumatra.

Bahkan kata dia, pelanggannya yang berasal dari Bali merupakan penjual aneka barang antik. Orang Bali tersebut membeli aneka produk dari Gong Sekaten dan kemudian diekspor ke luar negeri. Menurutnya, hampir sebulan sekali dirinya rutin mengirim aneka produk ukiran Gong Sekaten Ke Bali, dan puncaknya saat ada krisis moneter.

“Krismon yang sebagian orang dianggap bencana tapi bagi diriku saat itu malah sebuah berkah. Karena selain permintaan aneka produk ukiran meningkat, harganya juga ikut melambung karena terimbas dengan nilai tukar Dollar terhadap Rupiah,” ungkapnya.

Menurutnya, saat itu dirinya secara rutin mengirim tiga set produk ukiran sebulan. Namun, kata dia, semua perjalanan usaha tidaklah selalu mulus dan pasti ada kendalanya. Pesanan menurun drastis saat Bali ditimpa musibah adanya bom Bali pada tahun 2004. Sejak ada bencana bom tersebut permintaan aneka produk ukiran ke Bali menurun bahkan sangat jarang.

Karena pelanggannya yang dari Bali sudah jarang minta pesanan produk ukiran, kini Malik pun mengandalkan pesanan dari perorangan. Meskipun tidak selancar dulu namun dia tetap bersyukur usahanya masih berjalan dan masih tetap ada order meskipun tidak banyak. Karena menurutnya, banyak temannya yang punya usaha serupa sudah gulung tikar.

“Aku akui keadaan sekarang order turun dan peminat aneka produk ukiran turun drastis. Aku berharap keadaan sulit ini cepat berlalu agar usahaku makin maju, dan mendapatkan banyak pesanan pembuatan produk ukiran,” harapnya.